Historical and Cultural Context/id: Difference between revisions

From DanceResource.org
TranslationBot (talk | contribs)
Machine translation by bot
TranslationBot (talk | contribs)
Machine translation by bot
 
(7 intermediate revisions by 2 users not shown)
Line 1: Line 1:
{{Translation_status|status=machine}}{{DISPLAYTITLE:Konteks Sejarah dan Budaya}}'''Tari sadar''', sebagaimana adanya saat ini, berakar kuat dalam sejarah panjang dan beragam gerakan ritual, perwujudan komunal, dan ekspresi spiritual. Di berbagai budaya dan abad, tari telah berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk penyembuhan, bercerita, dan kohesi kelompok. Gerakan tari sadar kontemporer mengambil inspirasi dari tradisi leluhur ini sambil mengintegrasikan wawasan modern dari psikologi, somatik, dan seni ekspresif.
{{Translation_status|status=machine}}{{DISPLAYTITLE:Konteks Sejarah dan Budaya}}'''Tari sadar''', sebagaimana adanya saat ini, berakar kuat dalam sejarah panjang dan beragam gerakan ritual, perwujudan komunal, dan ekspresi spiritual. Di berbagai budaya dan abad, tari telah berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk penyembuhan, bercerita, dan kohesi kelompok. Gerakan tari sadar kontemporer mengambil inspirasi dari tradisi leluhur ini sambil mengintegrasikan wawasan modern dari psikologi, somatik, dan seni ekspresif.
{{UnderDevelopment}}


<span id="Ancient_Origins_and_Ritual"></span>
<span id="Ancient_Origins_and_Ritual"></span>
== Asal Usul dan Ritual Kuno ==
== Asal Usul dan Ritual Kuno ==


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Dari masyarakat prasejarah hingga peradaban yang mapan, tarian digunakan untuk terhubung dengan ilahi, mengekspresikan kesedihan atau perayaan, dan menyatukan komunitas dalam ritual bersama. Para antropolog telah mencatat bahwa gerakan ritmis dan tarian kolektif adalah perilaku manusia yang hampir universal—penting untuk upacara-upacara seperti ritus peralihan, transisi musiman, dan penyembuhan spiritual.<ref name="Dunbar2014">Dunbar, R. (2014). How conversations around campfires came to be. ''Frontiers in Psychology'', 5, 1135. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.01135</ref>
From prehistoric societies to established civilizations, dance was used to connect with the divine, express grief or celebration, and unite communities in shared ritual. Anthropologists have noted that rhythmic movement and collective dance are near-universal human behaviors—central to ceremonies such as rites of passage, seasonal transitions, and spiritual healing.<ref name="Dunbar2014">Dunbar, R. (2014). How conversations around campfires came to be. ''Frontiers in Psychology'', 5, 1135. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.01135</ref>
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Contohnya termasuk tarian trans suku San di Afrika Selatan, ritual pemintalan para mistikus Sufi, dan upacara berbasis drum di antara tradisi Afro-Brasil dan penduduk asli Amerika.<ref name="Aldridge1996">Aldridge, D. (1996). Music therapy research and practice in medicine: From out of the silence. Jessica Kingsley Publishers.</ref> Praktik-praktik ini sering bertujuan untuk menginduksi perubahan kesadaran untuk penyembuhan kolektif, wawasan spiritual, atau ikatan sosial.
Examples include the trance dances of the San people in Southern Africa, the spinning rituals of Sufi mystics, and drum-based ceremonies among Afro-Brazilian and Native American traditions.<ref name="Aldridge1996">Aldridge, D. (1996). Music therapy research and practice in medicine: From out of the silence. Jessica Kingsley Publishers.</ref> These practices often aimed to induce altered states of consciousness for collective healing, spiritual insight, or social bonding.
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Lihat: [[Ancient Origins and Ritual/id|Asal Usul dan Ritual Kuno]]
See: [[Ancient Origins and Ritual]]
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
<span id="Evolution_to_Modern_Conscious_Dance"></span>
== Evolution to Modern Conscious Dance ==
== Evolusi Menuju Tarian Sadar Modern ==
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Pada abad ke-20, tari kembali muncul sebagai alat penyembuhan melalui disiplin terapi seperti Terapi Tari/Gerakan (DMT), yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Marian Chace, Mary Whitehouse, dan Trudi Schoop. Para praktisi ini menyadari bahwa gerakan dapat digunakan untuk mengakses emosi, melepaskan trauma, dan mendukung integrasi.<ref name="Levy1988">Levy, F. J. (1988). Dance movement therapy: A healing art. American Alliance for Health, Physical Education, Recreation and Dance.</ref>
In the 20th century, dance reemerged as a healing tool through therapeutic disciplines such as Dance/Movement Therapy (DMT), pioneered by figures like Marian Chace, Mary Whitehouse, and Trudi Schoop. These practitioners recognized that movement could be used to access emotion, release trauma, and support integration.<ref name="Levy1988">Levy, F. J. (1988). Dance movement therapy: A healing art. American Alliance for Health, Physical Education, Recreation and Dance.</ref>
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, praktik tari sadar non-klinis juga mulai terbentuk. 5Ritme karya Gabrielle Roth dan terapi seni berbasis gerakan karya Anna Halprin meletakkan dasar bagi gerakan modern yang menekankan kebebasan, kehadiran, dan transformasi.<ref name="Roth1998">Roth, G. (1998). Maps to ecstasy: A healing journey for the untamed spirit. New World Library.</ref> Pada dekade-dekade berikutnya, modalitas baru seperti Biodanza, Movement Medicine, dan Soul Motion muncul, menggabungkan ritual, psikologi, dan ekspresi kreatif ke dalam pengalaman tari yang mudah diakses.
By the 1970s and 1980s, non-clinical conscious dance practices also began to take shape. Gabrielle Roth's 5Rhythms and Anna Halprin's movement-based art therapy laid the groundwork for a modern movement emphasizing freedom, presence, and transformation.<ref name="Roth1998">Roth, G. (1998). Maps to ecstasy: A healing journey for the untamed spirit. New World Library.</ref> In the following decades, new modalities such as Biodanza, Movement Medicine, and Soul Motion emerged, incorporating ritual, psychology, and creative expression into accessible dance experiences.
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Lihat: [[Evolution to Modern Conscious Dance/id|Evolusi Menuju Tarian Sadar Modern]]
See: [[Evolution to Modern Conscious Dance]]
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
<span id="Cross-Cultural_Perspectives"></span>
== Cross-Cultural Perspectives ==
== Perspektif Lintas Budaya ==
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Tari sadar kontemporer mencerminkan beragam pengaruh budaya. Banyak praktik yang meminjam dari gerakan diaspora Afrika, upacara adat, filsafat Timur, dan model terapi Barat. Meskipun sintesis ini memungkinkan inovasi dan inklusivitas, hal ini juga menimbulkan pertanyaan seputar apropriasi budaya dan penggunaan pengetahuan leluhur secara etis.
Contemporary conscious dance reflects a wide array of cultural influences. Many practices borrow from African diaspora movement, Indigenous ceremony, Eastern philosophy, and Western therapeutic models. While this synthesis allows for innovation and inclusivity, it also raises questions around cultural appropriation and the ethical use of ancestral knowledge.
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Para fasilitator dan komunitas semakin menyerukan kerangka kerja yang menghormati budaya, menghargai asal-usul praktik gerakan, dan mengakui signifikansi spiritual dan historisnya.<ref name="Turino2008">Turino, T. (2008). Music as social life: The politics of participation. University of Chicago Press.</ref> Kancah tari global saat ini mencakup percakapan seputar dekolonisasi, aksesibilitas, dan pelestarian kearifan berbasis garis keturunan di samping kreativitas sumber terbuka.
Facilitators and communities are increasingly calling for culturally respectful frameworks that honor the origins of movement practices and acknowledge their spiritual and historical significance.<ref name="Turino2008">Turino, T. (2008). Music as social life: The politics of participation. University of Chicago Press.</ref> Today’s global dance scene includes conversations around decolonization, accessibility, and the preservation of lineage-based wisdom alongside open-source creativity.
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
Lihat: [[Cross-Cultural Perspectives/id|Perspektif Lintas Budaya]]
See: [[Cross-Cultural Perspectives]]
</div>


<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">
<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr">

Latest revision as of 04:34, 16 February 2026

Tari sadar, sebagaimana adanya saat ini, berakar kuat dalam sejarah panjang dan beragam gerakan ritual, perwujudan komunal, dan ekspresi spiritual. Di berbagai budaya dan abad, tari telah berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk penyembuhan, bercerita, dan kohesi kelompok. Gerakan tari sadar kontemporer mengambil inspirasi dari tradisi leluhur ini sambil mengintegrasikan wawasan modern dari psikologi, somatik, dan seni ekspresif.

Halaman ini sedang dikembangkan sebagai bagian dari Wiki DanceResource. Beberapa tautan di bawah ini mengarah ke halaman yang belum dibuat atau diperluas sepenuhnya. Kontribusi dipersilakan untuk membantu membangun dan menyempurnakan konten.

Asal Usul dan Ritual Kuno

Dari masyarakat prasejarah hingga peradaban yang mapan, tarian digunakan untuk terhubung dengan ilahi, mengekspresikan kesedihan atau perayaan, dan menyatukan komunitas dalam ritual bersama. Para antropolog telah mencatat bahwa gerakan ritmis dan tarian kolektif adalah perilaku manusia yang hampir universal—penting untuk upacara-upacara seperti ritus peralihan, transisi musiman, dan penyembuhan spiritual.[1]

Contohnya termasuk tarian trans suku San di Afrika Selatan, ritual pemintalan para mistikus Sufi, dan upacara berbasis drum di antara tradisi Afro-Brasil dan penduduk asli Amerika.[2] Praktik-praktik ini sering bertujuan untuk menginduksi perubahan kesadaran untuk penyembuhan kolektif, wawasan spiritual, atau ikatan sosial.

Lihat: Asal Usul dan Ritual Kuno

Evolusi Menuju Tarian Sadar Modern

Pada abad ke-20, tari kembali muncul sebagai alat penyembuhan melalui disiplin terapi seperti Terapi Tari/Gerakan (DMT), yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Marian Chace, Mary Whitehouse, dan Trudi Schoop. Para praktisi ini menyadari bahwa gerakan dapat digunakan untuk mengakses emosi, melepaskan trauma, dan mendukung integrasi.[3]

Pada tahun 1970-an dan 1980-an, praktik tari sadar non-klinis juga mulai terbentuk. 5Ritme karya Gabrielle Roth dan terapi seni berbasis gerakan karya Anna Halprin meletakkan dasar bagi gerakan modern yang menekankan kebebasan, kehadiran, dan transformasi.[4] Pada dekade-dekade berikutnya, modalitas baru seperti Biodanza, Movement Medicine, dan Soul Motion muncul, menggabungkan ritual, psikologi, dan ekspresi kreatif ke dalam pengalaman tari yang mudah diakses.

Lihat: Evolusi Menuju Tarian Sadar Modern

Perspektif Lintas Budaya

Tari sadar kontemporer mencerminkan beragam pengaruh budaya. Banyak praktik yang meminjam dari gerakan diaspora Afrika, upacara adat, filsafat Timur, dan model terapi Barat. Meskipun sintesis ini memungkinkan inovasi dan inklusivitas, hal ini juga menimbulkan pertanyaan seputar apropriasi budaya dan penggunaan pengetahuan leluhur secara etis.

Para fasilitator dan komunitas semakin menyerukan kerangka kerja yang menghormati budaya, menghargai asal-usul praktik gerakan, dan mengakui signifikansi spiritual dan historisnya.[5] Kancah tari global saat ini mencakup percakapan seputar dekolonisasi, aksesibilitas, dan pelestarian kearifan berbasis garis keturunan di samping kreativitas sumber terbuka.

Lihat: Perspektif Lintas Budaya

References

  1. Dunbar, R. (2014). How conversations around campfires came to be. Frontiers in Psychology, 5, 1135. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.01135
  2. Aldridge, D. (1996). Music therapy research and practice in medicine: From out of the silence. Jessica Kingsley Publishers.
  3. Levy, F. J. (1988). Dance movement therapy: A healing art. American Alliance for Health, Physical Education, Recreation and Dance.
  4. Roth, G. (1998). Maps to ecstasy: A healing journey for the untamed spirit. New World Library.
  5. Turino, T. (2008). Music as social life: The politics of participation. University of Chicago Press.