Historical and Cultural Context/id: Difference between revisions
Machine translation by bot |
Machine translation by bot |
||
| Line 17: | Line 17: | ||
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, praktik tari sadar non-klinis juga mulai terbentuk. 5Ritme karya Gabrielle Roth dan terapi seni berbasis gerakan karya Anna Halprin meletakkan dasar bagi gerakan modern yang menekankan kebebasan, kehadiran, dan transformasi.<ref name="Roth1998">Roth, G. (1998). Maps to ecstasy: A healing journey for the untamed spirit. New World Library.</ref> Pada dekade-dekade berikutnya, modalitas baru seperti Biodanza, Movement Medicine, dan Soul Motion muncul, menggabungkan ritual, psikologi, dan ekspresi kreatif ke dalam pengalaman tari yang mudah diakses. | Pada tahun 1970-an dan 1980-an, praktik tari sadar non-klinis juga mulai terbentuk. 5Ritme karya Gabrielle Roth dan terapi seni berbasis gerakan karya Anna Halprin meletakkan dasar bagi gerakan modern yang menekankan kebebasan, kehadiran, dan transformasi.<ref name="Roth1998">Roth, G. (1998). Maps to ecstasy: A healing journey for the untamed spirit. New World Library.</ref> Pada dekade-dekade berikutnya, modalitas baru seperti Biodanza, Movement Medicine, dan Soul Motion muncul, menggabungkan ritual, psikologi, dan ekspresi kreatif ke dalam pengalaman tari yang mudah diakses. | ||
Lihat: [[Evolution to Modern Conscious Dance/id|Evolusi Menuju Tarian Sadar Modern]] | |||
<div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr"> | <div lang="en" dir="ltr" class="mw-content-ltr"> | ||
Revision as of 13:40, 15 February 2026
Tari sadar, sebagaimana adanya saat ini, berakar kuat dalam sejarah panjang dan beragam gerakan ritual, perwujudan komunal, dan ekspresi spiritual. Di berbagai budaya dan abad, tari telah berfungsi sebagai alat yang ampuh untuk penyembuhan, bercerita, dan kohesi kelompok. Gerakan tari sadar kontemporer mengambil inspirasi dari tradisi leluhur ini sambil mengintegrasikan wawasan modern dari psikologi, somatik, dan seni ekspresif.
Asal Usul dan Ritual Kuno
Dari masyarakat prasejarah hingga peradaban yang mapan, tarian digunakan untuk terhubung dengan ilahi, mengekspresikan kesedihan atau perayaan, dan menyatukan komunitas dalam ritual bersama. Para antropolog telah mencatat bahwa gerakan ritmis dan tarian kolektif adalah perilaku manusia yang hampir universal—penting untuk upacara-upacara seperti ritus peralihan, transisi musiman, dan penyembuhan spiritual.[1]
Contohnya termasuk tarian trans suku San di Afrika Selatan, ritual pemintalan para mistikus Sufi, dan upacara berbasis drum di antara tradisi Afro-Brasil dan penduduk asli Amerika.[2] Praktik-praktik ini sering bertujuan untuk menginduksi perubahan kesadaran untuk penyembuhan kolektif, wawasan spiritual, atau ikatan sosial.
Lihat: Asal Usul dan Ritual Kuno
Evolusi Menuju Tarian Sadar Modern
Pada abad ke-20, tari kembali muncul sebagai alat penyembuhan melalui disiplin terapi seperti Terapi Tari/Gerakan (DMT), yang dipelopori oleh tokoh-tokoh seperti Marian Chace, Mary Whitehouse, dan Trudi Schoop. Para praktisi ini menyadari bahwa gerakan dapat digunakan untuk mengakses emosi, melepaskan trauma, dan mendukung integrasi.[3]
Pada tahun 1970-an dan 1980-an, praktik tari sadar non-klinis juga mulai terbentuk. 5Ritme karya Gabrielle Roth dan terapi seni berbasis gerakan karya Anna Halprin meletakkan dasar bagi gerakan modern yang menekankan kebebasan, kehadiran, dan transformasi.[4] Pada dekade-dekade berikutnya, modalitas baru seperti Biodanza, Movement Medicine, dan Soul Motion muncul, menggabungkan ritual, psikologi, dan ekspresi kreatif ke dalam pengalaman tari yang mudah diakses.
Lihat: Evolusi Menuju Tarian Sadar Modern
Cross-Cultural Perspectives
Contemporary conscious dance reflects a wide array of cultural influences. Many practices borrow from African diaspora movement, Indigenous ceremony, Eastern philosophy, and Western therapeutic models. While this synthesis allows for innovation and inclusivity, it also raises questions around cultural appropriation and the ethical use of ancestral knowledge.
Facilitators and communities are increasingly calling for culturally respectful frameworks that honor the origins of movement practices and acknowledge their spiritual and historical significance.[5] Today’s global dance scene includes conversations around decolonization, accessibility, and the preservation of lineage-based wisdom alongside open-source creativity.
References
- ↑ Dunbar, R. (2014). How conversations around campfires came to be. Frontiers in Psychology, 5, 1135. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2014.01135
- ↑ Aldridge, D. (1996). Music therapy research and practice in medicine: From out of the silence. Jessica Kingsley Publishers.
- ↑ Levy, F. J. (1988). Dance movement therapy: A healing art. American Alliance for Health, Physical Education, Recreation and Dance.
- ↑ Roth, G. (1998). Maps to ecstasy: A healing journey for the untamed spirit. New World Library.
- ↑ Turino, T. (2008). Music as social life: The politics of participation. University of Chicago Press.